Gaya Kepemimpinan Prabowo Subianto: Analisis dan Prediksi dari Analis Asing

0 Comments

RedaksiBali.com – Analis politik dari Amerika Serikat, Salil Tripathi, telah menyampaikan prediksi mengenai gaya kepemimpinan Prabowo Subianto jika dia terpilih sebagai presiden Republik Indonesia. Pandangannya tersebut terpublikasi dalam sebuah analisis berjudul ‘How Will Prabowo Lead Indonesia?’ yang dipublikasikan oleh Foreign Policy pada Rabu (28/2).

Menurut Tripathi, Prabowo kemungkinan akan menganggap perjuangan politiknya berhasil, meskipun masih bergantung pada dukungan tak langsung dari Presiden Indonesia saat ini, Joko Widodo. Hal ini terlihat dari pilihan Prabowo untuk mengusung Gibran Rakabuming, anak sulung Jokowi, sebagai calon wakil presiden dalam Pemilihan Umum.

Meskipun bergantung pada dukungan Jokowi, Tripathi percaya bahwa Prabowo tidak akan lagi bergantung sepenuhnya padanya untuk memerintah. Namun demikian, dia menyatakan bahwa Prabowo kemungkinan besar akan mengandalkan langkah-langkah populis yang berisiko untuk menarik dukungan dalam negeri.

Salah satu contoh langkah populis yang diusung oleh Prabowo adalah program makan siang gratis bagi anak-anak di sekolah. Meskipun patut diapresiasi, Tripathi menganggap rencana ini akan memberikan beban pada anggaran negara dan berpotensi memperlambat defisit fiskal, serta menimbulkan inflasi.

Selain itu, dia mencatat bahwa Prabowo mungkin tidak akan didampingi oleh menteri yang memiliki latar belakang teknokratis seperti di era Jokowi. Tripathi juga menyoroti hubungan antara Prabowo dengan Sri Mulyani, Menteri Keuangan saat ini, yang terkenal karena kredibilitas dan reformisnya.

Meskipun Sri Mulyani tidak disebut sebagai pilihan untuk posisi Menteri Keuangan dalam kabinet Prabowo, Tripathi menyatakan bahwa beberapa menteri lain dari kabinet Jokowi mungkin akan tetap bertahan, yang mungkin tidak diinginkan oleh Prabowo.

baca juga ….

Panen Perdana Madu Apis Mellifera

Selain itu, Tripathi mempertanyakan keberlanjutan aliansi antara Jokowi dan Prabowo. Dengan pengalaman politik yang terbatas, terutama sebagai Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming dianggap sebagai ancaman oleh Prabowo. Jika Prabowo melihat Gibran sebagai ancaman, Tripathi berpendapat bahwa aliansi mereka mungkin akan pecah.

Terkait dengan sifat Prabowo, Tripathi menyoroti perbedaan antara citra publiknya yang menampilkan dirinya sebagai sosok yang gemas dan blak-blakan dengan masa lalunya yang kontroversial, termasuk tuduhan pelanggaran hak asasi manusia seperti penculikan aktivis pada tahun 1998 dan kekerasan di Papua dan Timor Leste.

Tripathi juga menggambarkan bahwa sikap agresif Prabowo dalam politik domestik berpotensi membuatnya siap untuk menantang negara-negara Barat, yang mungkin disukai oleh pemilih di Indonesia. Namun, sikap tersebut bertentangan dengan reputasi Jokowi sebagai seorang pemimpin populis yang sopan.

Dalam konteks dunia yang multipolar dengan perubahan aliansi yang dinamis, Tripathi memprediksi bahwa Prabowo mungkin akan mencari jalur yang lebih independen, mirip dengan pendekatan yang diambil oleh mantan Presiden Suharto.

Dengan unggulnya Prabowo dalam hasil real count KPU dan sejumlah lembaga survei dengan 58 persen suara dalam pemilihan presiden (Pilpres) terbaru, nasib Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto di kancah global menjadi sebuah pertanyaan yang menarik untuk diikuti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts