Proyeksi Kinerja, Tantangan, dan Strategi Perusahaan Sido Muncul (SIDO)

0 Comments

RedaksiBali.com – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) merupakan perusahaan yang mengalami penurunan pendapatan dan laba bersih sebesar 10% (yoy) pada tahun 2023. Faktor-faktor seperti pelemahan daya beli, inflasi, dan kenaikan UMP mempengaruhi kinerja perusahaan ini. Selain itu, cuaca kemarau juga berdampak negatif terhadap penjualan pada kuartal III-2023.

Meskipun manajemen belum memberikan guidance konkret untuk tahun 2024, terdapat tanda-tanda pemulihan dengan peningkatan penjualan pada Oktober dan November 2023. SIDO memproyeksikan perbaikan kinerja pada kuartal IV-2023, yang didorong oleh cuaca yang lebih bersahabat dan pendistribusian bantuan sosial.

Salah satu strategi yang tetap dijalankan oleh SIDO adalah investasi dalam iklan dan promosi untuk meningkatkan brand awareness, meskipun pendapatan mengalami penurunan. Meskipun biaya penjualan naik 8% (yoy), pangsa pasar produk ‘Tolak Angin’ SIDO berhasil meningkat menjadi 73%.

Dividen yang diberikan oleh SIDO tetap besar dengan payout ratio sebesar 85-90%, sehingga perusahaan ini tetap mempertahankan reputasinya sebagai investasi jangka panjang yang aman. Proyeksi laba bersih konservatif SIDO untuk tahun ini adalah sebesar Rp 850 miliar, dengan dividen yang mengindikasikan yield sebesar 4,8%.

baca juga :

Sri Mulyani: Jepang, Inggris, dan Sejumlah Negara Maju Resesi, Mereka Lemah!

Harga Beras Melonjak di Semarang, Tembus Rp 21.000 Per Kg

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp6.349 Triliun di Akhir 2023

Dampak Kenaikan Harga Bahan Pokok dan Kelangkaan Pangan Jelang Pemilu

BRI Danareksa Sekuritas merevisi turun proyeksi laba bersih SIDO pada tahun 2023 dan 2024 karena lesunya volume penjualan produk herbal. Penurunan pendapatan mencapai 12% pada Januari-September 2023, yang memicu penurunan laba bersih sebesar 18,6% (yoy). Meskipun proyeksi pendapatan turun, SIDO masih dianggap sebagai pilihan investasi jangka panjang yang aman. Proyeksi laba bersih untuk tahun 2024 sebesar Rp 1 triliun, dengan total dividen perseroan mencapai Rp 850 miliar, setara dengan dividend yield sebesar 5,7%.

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi hold untuk saham SIDO, dengan menurunkan target harga saham menjadi Rp 500. Salah satu risiko investasi yang perlu diperhatikan adalah penurunan volume penjualan dan kenaikan harga bahan baku yang dapat menghambat margin. Meskipun demikian, SIDO tetap menjadi pilihan investasi yang menjanjikan untuk jangka panjang.

Jangan lewatkan informasi terbaru mengenai proyeksi kinerja saham SIDO, peluang investasi, dan risiko terkait. Dapatkan informasi terkini untuk membuat keputusan investasi yang cerdas.

Selengkapnya tentang proyeksi kinerja saham SIDO, peluang investasi, dan risiko terkait. Jangan lewatkan informasi terbaru untuk membuat keputusan investasi yang cerdas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts