Saham PT Indika Energy Tbk (INDY) Masih Undervalue, Menurut Analis

0 Comments

RedaksiBali.com – PT Indika Energy Tbk (INDY), perusahaan emiten batu bara, mengalami penurunan sebesar 44,69% secara tahunan. Namun, para analis melihat bahwa saham INDY masih tergolong undervalue dengan harga saat ini. Presiden Direktur Kiwoom Sekuritas, ChangKun Shin, menyarankan investor untuk melakukan hold pada saham INDY dalam jangka panjang. Ia juga mencatat bahwa INDY masih cukup undervalue.

“Untuk jangka pendek, lebih baik melakukan wait and see secara teknikal,” ucap Shin pada Senin (20/11/2023). Setelah melakukan wait and see, investor dapat melakukan trading buy apabila terdapat sinyal beli yang kuat dari saham INDY. Shin juga mencermati bahwa saat ini, saham INDY masih diperdagangkan dengan price to earning (PE) 4x dan price to book value (PBV) sebesar 0,42x, dengan memperhatikan harga terakhir di Rp1.515. Dengan penilaian tersebut, Kiwoom Sekuritas melihat bahwa saham INDY masih tergolong undervalue atau berada di bawah harga wajarnya.

baca juga :

Sri Mulyani: Jepang, Inggris, dan Sejumlah Negara Maju Resesi, Mereka Lemah!

Harga Beras Melonjak di Semarang, Tembus Rp 21.000 Per Kg

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp6.349 Triliun di Akhir 2023

Dampak Kenaikan Harga Bahan Pokok dan Kelangkaan Pangan Jelang Pemilu

Berdasarkan catatan Bisnis, saham-saham emiten batu bara LQ45 seperti ADRO, ITMG, dan PTBA juga masih berada di bawah harga wajarnya jika mengacu pada PBV. Saham ADRO, misalnya, masih tergolong undervalue dengan PBV 0,78x, sedangkan ITMG dengan PBV 1,1x, dan PTBA dengan PBV 1,45x.

Ricky Fernando, Head of Corporate Communication Indika Energy, mengungkapkan bahwa anak usaha INDY, Kideco Jaya Agung, telah memproduksi batu bara sebesar 25,4 juta ton hingga Oktober 2023. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 29,4 juta ton.

"Pada periode yang sama di tahun lalu atau di Oktober 2022, Kideco memproduksi 29,4 juta ton," kata Ricky pada Kamis (16/11/2023). Ricky juga menyampaikan bahwa INDY masih optimistis dapat mencapai target produksi batu bara sebesar 31 juta ton sampai akhir tahun 2023. Perusahaan akan mengoptimalkan produktivitas untuk mencapai target tersebut.

Melihat kondisi ini, investor dapat mempertimbangkan untuk melakukan investasi jangka panjang pada saham INDY. Dengan harga yang masih tergolong undervalue, saham INDY memiliki potensi untuk mengalami kenaikan nilai di masa depan. Namun, seperti yang disarankan oleh ChangKun Shin, investor juga perlu memperhatikan sinyal beli yang kuat sebelum melakukan trading buy.

Perlu diingat bahwa investasi saham memiliki risiko, dan keputusan investasi harus didasarkan pada analisis yang seksama dan pemahaman yang baik tentang perusahaan serta kondisi pasar. Selalu lakukan riset dan konsultasikan dengan ahli keuangan sebelum mengambil keputusan investasi.

Dengan mempertimbangkan semua faktor tersebut, saham INDY dapat menjadi pilihan yang menarik bagi investor yang mencari potensi keuntungan jangka panjang dalam sektor batu bara.

video terkait :

Siplah Umah IT
Umah IT
adaru bhumi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts